Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 14 November 2012 - 0 komentar

heart of stone

every appearance by you blinding my eyes
you are angel disguised
the glass in front of me is it half empty
have i ruined all you've given me?
i stare at you while you are sleeping
i listen to your breathing
my words don't to matter
i can see it in your eyes that your so sure
i find peace when i saw your eyes
you could only see in the mirror what i see
look at me and i can see the lies you are running to
you say i have got to get away
your words felt like knife
these streets are filled with memories
both perfect an in pain
what do i know if you are leaving
these word have no meaning
i wish that i could it back
i lose my sense of wrong and right
don't say this won't last forever
everything about you seemed to be a lie
made me learn to hate you or hate my self for letting it pass by
it's cold hard road when you wake up
i don't think that i have the strength to let you go
couldn't you believe that everything i said and did?
someday i promise i will be gone
but i hate my self when i away from you
if you leave me tonight i will wake up alone
this heart of stone will sing till it dies if you leave me tonight
i know i'm not the best for you
my beating heart is getting tired
i'm lonely and my mind is aching
you must be an angel
sit down and teach me what life was all about
you gave me a reason to never die
under the moonlight
take my hand and hold it tight
if i ask you to stay would yo tell me you would be mine?


*of some song from secondhand serenade



Selasa, 06 November 2012 - 0 komentar

Pena Ku

renungan kelam akan masa lalu
walau tak sepanjang separuh jalan hidup
namun cukup membuat rindu
rindu bahagia yang terhirup

membuka halaman baru
coba mengisi dengan kenangan haru
cerita tawa maupun duka
namun tak ku temukan se sosok pena
pena yang memberi kenangan
melukis kembali masa lalu yang menjadi angan

ku bagai buku tebal
tebal oleh berjuta halaman
halaman yang menjadi cerita hidup
cerita hidup yang menjadi bukti . . . . menjadi saksi . . . .
betapa ku butuhkan pena baru
pena yang mengukir semua kisah pada diriku . . . . pada halamanku . . . .

beribu tanya memeras pikiran
satu tanya tak temukan jawab
suatu yang tak dapat ku mengerti
terlalu dingin, hingga keputus asaan pun selalu datang bagaikan hujan
beri tau aku apa isi hatimu?
dalamnya lautan tak dapat menandingi dalamnya hatimu
mencoba mengarungi hingga ku temukan batas
separuh jalan pun ku tak tau
 tak bisa berkata
tak dapat membuat suara
untuk sosok yang mengalihkan perhatianmu
sosok yang menciptakan rindu
jika kenangan indahmu yang membuatmu terpaku
walaupun telah menjadi duri
yang berada di jurang terdalam hatimu
ku tak sanggup mengganti
jangan bilang aku lelaki jika ku tak mampu

sedalam apa pun akan berlalu
tatap mataku
hingga ku tau inginmu
kau pun tau apa yang ku mau
mau kah kau menjadi pena dalam hidupku?
Sabtu, 07 April 2012 - 0 komentar

Hujan

hari begitu cerah dikala siang
saat itu aku senang
kala itu aku riang
terbang bebas kesana kemari bagai belalang

kala itu masih ada dikau
bagai mentari yg hiasi kalbu
laksana pelita indah
membuang semua gundah

kini kau pergi
aku sadar betapa diriku keji
kala kau selalu menemani
kadang kubalas dengan caci maki

kini ku tersesal
atau takdirku yg sial
aku tak membual
saat ku ucap aku tak akan mengulang salahku
juga selalu menyorotimu

mustahil bagimu tuk percaya padaku
setetes air hujan menggambarkan penyesalanku
jatuh bertubi tubi menghujam diriku
membuat basah semua kalbu
dan tak kan berhenti sebelum mentari mengusir semua pilu
hingga hujan penyesalan ku hilang dan membisu

tangis ku bagai hujan
tak reda sebelum kau terpa awan
hatiku dilanda hujan
tak kan kering sebelum kau ulurkan tangan
pikiranku penuh air hujan
sebelum kau beri lagi kesempatan

maaf hujan penyeselanku datang terlambat
sampai akhirnya kini kau tak dapat lagi ku lihat
Kamis, 27 Oktober 2011 - 0 komentar

Diriku dan Dirimu

burung berkicau
bintang berkilau
awan berkejaran kala kau temaniku saat itu

dirimu laksana pelangi
yg hadir setelah hujan di hati
dirimu bagai petir
yg menyambar semua getir
membuang semua gelisah
membungkam semua pasrah
dan membawa cerah
pada hidupku yg gerah

kau beri aku cerita
kau tuang suka cita
kau ucap kata suka
hanya untuk diriku yg penuh asa

tapi apa balasan dari ku
ku balas semua emasmu hanya dengan sebongkah batu
tak tau malu

kini kau telah pergi
mungkin terlalu perih semua salah yg ku beri

dulu aku bagai bangkai
jiwaku telah pergi
dulu aku memang tuli
tak bisa mendengarmu oh bidadari
dulu aku memang buta
tak dapat memandangmu oh cinta

sekarang dirimu lenyap
kemana bidadariku hinggap
disaat ku telah sadar
bahwa hanya dirimu yg benar

maaf terasa percuma
salahku bagai samudera
yg tak akan kering
aku bagai duri
yg tak mungkin kau masukan hati

hatiku mati
hanya menunggumu bidadari


cipt: Rozzaq Akbar
- 0 komentar

Bayang Semu

dalam ayunan ku duduk memandang laut lepas
jauh... jauh ku pandang laut tak bertepi
mencoba menarik nafas
bayang sosok yg hadir dalam mimpi

terpancar kala itu
kau sumbangkan senyum dan tatapan matamu
tapi.... tak ku temukan kau tersipu
ku temui hanya bayang masa lalu

ketika lambaian tanganmu
hanya sebuah kibasan anganku
memberi suka, bahagia, serta pilu.

aku hanya benalu
tak mungkin terbesit di anganmu tuk memandangku
aku memori masa lalu
tak mungkin tersirat olehmu tuk mengingatku

aku hanya bunga di tepi jalan
memandang dirimu penuh keindahan

salahku bagai peluru
yang membekas di hatimu
sesalku bagai setetes air di pasir
apa ini namanya takdir?
air mata hanya akan jadi abu
maaf yg dapat ku ucap atas sesalku

hatiku layaknya hujan
tak kan berbunga sebelum terbit mentari
aku menapaki jalan
hanya untuk bertemu dirimu bidadari

aku hanya pinta satu
beri kesempatan padaku
menunjukan aku yang baru


cipt: Rozzaq Akbar